“Razia Seremonial? Polres Taliabu: Miras Disapu di Pelabuhan, ‘Diloloskan’ ke THM”

Admin RedMOL
0


RedMOL.id,Pulau Taliabu Kritik keras kembali diarahkan kepada institusi penegak hukum di daerah. Kali ini, sorotan tajam datang dari kalangan aktivis mahasiswa yang menilai langkah Polres Pulau TaliabuTaliabu dalam menangani peredaran minuman keras (miras) ilegal terkesan tebang pilih dan penuh kejanggalan.

Aktivis mahasiswa Muflihun La Guna menilai, operasi razia yang selama ini dilakukan aparat lebih terlihat sebagai kegiatan seremonial semata. Di satu sisi, polisi gencar melakukan pemeriksaan di pelabuhan setiap kapal masuk serta menyasar kios-kios kecil milik warga. Namun di sisi lain, muncul dugaan kuat bahwa miras justru tetap bisa “lolos” dan beredar bebas di Tempat Hiburan Malam (THM).

“Ini yang kami pertanyakan. Kalau memang serius memberantas miras, kenapa hanya menyasar pedagang kecil dan jalur masuk? Tapi saat masuk ke THM, seolah ada pembiaran. Ini tidak masuk akal,” tegas salah satu aktivis mahasiswa dalam keterangannya. Menurutnya, penegakan hukum yang tidak konsisten justru menimbulkan kecurigaan publik. Ia menyebut, jika razia hanya dilakukan di titik-titik tertentu tanpa menyentuh pusat peredaran, maka upaya tersebut patut diduga hanya sebagai formalitas belaka.

Aktivis menyoroti adanya dugaan standar ganda dalam penindakan. Pedagang kecil dan masyarakat bawah kerap menjadi sasaran operasi, sementara lokasi-lokasi hiburan malam yang diduga menjadi titik distribusi utama miras justru terkesan aman dari penertiban. “Kalau mau musnahkan miras, jangan pilih-pilih. Jangan lihat siapa dia, dari mana dia, atau punya ‘kedekatan’ dengan siapa. Hukum itu harus berdiri sama rata,” lanjutnya dengan nada tegas.

Ia bahkan menyebut kondisi ini berpotensi menimbulkan persepsi liar di masyarakat, bahwa penegakan hukum bisa saja dipengaruhi oleh kepentingan tertentu.


Bukan sampai disitu, kritik yang disampaikan juga menyinggung dugaan bahwa peredaran miras ilegal tidak lagi sekadar persoalan ketertiban umum, tetapi sudah mengarah pada praktik yang diduga dimanfaatkan sebagai ladang bisnis oleh oknum tertentu.

“Alih-alih menjaga ketertiban, yang terjadi justru sebaliknya. Miras ilegal ini seperti dibiarkan hidup. Kalau begini terus, publik wajar curiga ada permainan,” ujar aktivis tersebut.

Pernyataan ini tentu bukan tanpa risiko. Namun pihak aktivis mengaku siap bertanggung jawab atas kritik yang disampaikan, bahkan membuka ruang dialog langsung dengan aparat kepolisian.

Dalam pernyataannya, aktivis juga secara terbuka menantang pihak Polres Pulau Taliabu untuk tidak hanya membaca kritik ini, tetapi juga merespons secara konkret—bahkan jika perlu kita bahas persoalan ini dengan diskusi terbuka.

“Kami tidak anti-polisi. Kami justru ingin institusi ini bersih dan dipercaya. Kalau memang tidak benar, silakan bantah.tegasnya. Muflihun

Aktivis mahasiswa mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola penindakan miras di wilayah Pulau Taliabu. Mereka meminta agar aparat bertindak tegas tanpa pandang bulu, termasuk terhadap tempat hiburan malam yang selama ini diduga menjadi titik aman peredaran miras.

“Ini bukan sekadar razia. Ini soal integritas. Kalau hukum mau ditegakkan, maka harus adil, transparan, dan tanpa kompromi,” pungkasnya.

belum ada keterangan resmi dari pihak Polres Pulau Taliabu terkait tudingan tersebut. Namun publik kini menunggu, apakah kritik keras ini akan dijawab dengan tindakan nyata—atau kembali berlalu tanpa perubahan berarti.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)