**Pemuda,Kekuasaan, dan Kehilangan Arah: Catatan dari Pinggiran Taliabu selatan**

Admin RedMOL
0
Oleh: Muflihun La Guna 

Taliabu,RedMOL.ID—Muflihun La Guna merefleksikan kembali tempat kelahiran nya yang adaa di desa pencado.Di tengah arus globalisasi yang kian deras, desa-desa kecil di wilayah timur Indonesia seperti di Pulau Taliabu terkhusus di Taliabu selatan (Desa Pencado)menghadapi ironi yang tak sederhana. Di satu sisi, akses informasi semakin terbuka; di sisi lain, arah gerak sosial pemuda justru semakin kabur. Fenomena ini bukan sekadar persoalan kurangnya fasilitas atau pendidikan, melainkan juga akibat dari relasi kuasa yang timpang antara elit lokal dan masyarakat muda.(pencado/Senin/06/04/2026) 


Pemuda yang seharusnya menjadi motor perubahan kini berada dalam posisi yang ambigu: antara harapan sebagai agen transformasi dan realitas sebagai alat legitimasi kekuasaan. Dalam banyak kasus, keterlibatan pemuda dalam politik desa tidak lahir dari kesadaran kritis, melainkan hasil mobilisasi oleh elit-elit borjuis lokal yang memiliki kepentingan mempertahankan dominasi.


Struktur kekuasaan di tingkat desa sering kali mereproduksi pola lama: segelintir orang menguasai sumber daya ekonomi dan politik, sementara mayoritas hanya menjadi penonton. Dalam konteks ini, pemuda tidak diberikan ruang untuk berpikir dan bertindak secara mandiri. Mereka diarahkan, dibentuk, bahkan dalam beberapa kasus “dipelihara” untuk mendukung agenda tertentu. Akibatnya, lahirlah generasi yang kehilangan daya kritis dan orientasi.


Lebih jauh lagi, kondisi ini menciptakan ketergantungan psikologis dan sosial. Pemuda tidak lagi melihat dirinya sebagai subjek perubahan, melainkan objek yang menunggu instruksi. Mereka terjebak dalam siklus pragmatisme: loyalitas dibalas dengan akses sementara, kritik dibalas dengan marginalisasi. Dalam jangka panjang, hal ini mematikan potensi kreatif dan inovatif yang seharusnya menjadi kekuatan utama generasi muda.


Namun, situasi ini bukan tanpa celah. Di tengah dominasi elit, masih ada ruang-ruang kecil yang bisa dimanfaatkan untuk membangun kesadaran kolektif. Pendidikan kritis, diskusi komunitas, dan gerakan berbasis solidaritas dapat menjadi titik awal untuk merebut kembali otonomi pemuda. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk keluar dari bayang-bayang kekuasaan dan membangun narasi alternatif tentang masa depan desa.


Pemuda Taliabu—dan desa-desa lain yang mengalami nasib serupa—harus mulai mempertanyakan posisi mereka dalam struktur sosial yang ada. Apakah mereka akan terus menjadi perpanjangan tangan kekuasaan, atau berani mengambil peran sebagai pengubah keadaan? Pertanyaan ini penting, karena masa depan desa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa hari ini, tetapi juga oleh sejauh mana pemudanya mampu membayangkan dan memperjuangkan perubahan.


Akhirnya, arah pemuda tidak boleh ditentukan oleh kepentingan elit semata. Ia harus lahir dari kesadaran, pengalaman, dan harapan kolektif. Tanpa itu, desa hanya akan menjadi panggung bagi kekuasaan yang berulang, sementara pemudanya terus berjalan tanpa arah.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)