
Tim-tim yang tidak diunggulkan sering kali mampu memberikan kejutan besar dengan menyulitkan dan bahkan menyingkirkan negara raksasa sepak bola.
Kejutan besar di awal turnamen FIFA World Cup 2026, ditorehkan tim debutan yang datang dari sebuah kepulauan di Samudra Atlantik di lepas pantai barat Afrika, Cape (Tanjung) Verde. Negara dengan populasi penduduk yang kurang dari 500.000 jiwa ini, mengejutkan dunia dengan lolos dari fase grup sebagai runner-u grup H.
Awalnya orang-orang mungkin menyangka kelolosan Tanjung Verde yang tak terkalahkan di grup H adalah faktor keberuntungan semata. Betapa tidak, bermain di grup H Tanjung Verde berperingkat FIFA paling rendah (67) mereka di bawah Spanyol (2), Uruguay (16) dan Arab Saudi (61)
Mereka tiga kali bermain imbang tetapi lolos sebagai runner-up grup di bawah Spanyol mantan juara dunia 2010 dan empat kali juara Eropa, dengan menyingkirkan Uruguay dua kali juara dunia dan 15 kali juara Amerika, serta Arab Saudi tiga kali juara Asia.
Namun, di babak selanjutnya pasukan pelatih Pedro Leitao Brito (yang lebih dikenal sebagai Bubista) telah menunjukkan kepada dunia, mereka tidak hanya sekedar datang ke turnamen, tetapi hadir sebagai sebuah tim yang menjadikan Piala Dunia ini sebagai babak terhebat dalam sejarah mereka.
Mereka tampil di 32 besar menantang Argentina bukan hanya sebagai tim pelengkap, mereka membuat Argentina harus berjuang hingga babak perpanjangan waktu untuk ke-12 kalinya bagi tim Tango di Piala Dunia FIFA, sebelum akhirnya Cape Verde harus takluk 3-2 di babak 32 besar ini di Hard Rock Stadium (Miami, Florida).
Tanjung Verde tampil penuh percaya diri hingga akhir, mereka bangkit menyamakan kedudukan dua kali, dan hampir-hampir saja menciptakan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia sepanjang masa.
Setelah bermain 1-1 di 90 menit pertandingan, lewat gol Messi di babak pertama dan dibalas Deroy Duarte di babak kedua. Di babak tambahan waktu, Lisandro Martinez membawa Argentina kembali unggul dan tampaknya akan memastikan kemenangan. Tetapi, tim Tanjung Verde menolak untuk hanya menjadi pemain figuran mereka langsung memberikan respons.
Sidny Lopes Cabral mencetak gol penyeimbang yang spektakuler lewat tendangan melengkung pada menit ke-103 untuk menjaga harapan Tanjung Verde tetap hidup. Lopes Cabral langsung berlari ke tribun untuk merayakan gol, menyadari betapa pentingnya momen tersebut.
