Gendang Telinga Robek Disebut “Benturan Biasa”? Jangan Normalisasi Kekerasan di Dunia Olahraga Sulawesi Tengah.!!

Admin RedMOL
0
Insiden mengerikan yang di alami oleh pemain Taliabu muda.dok/RedMOL.id/Muflihun

Sulawesi Tengah–Peristiwa yang terjadi dalam ajang turnamen berani Juara 2026 pagimana Sulawesi Tengah sepak bola lokal kembali menyisakan luka, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara moral bagi dunia olahraga kita di Sulawesi Tengah Seorang pemain muda asal Taliabu harus mengalami cedera serius—robek pada bagian luar telinga hingga berdampak pada gendang telinga—namun ironisnya, insiden tersebut justru dianggap sebagai “benturan biasa”.

Pertanyaannya, sejak kapan cedera serius seperti itu dianggap normal dalam olahraga?

Pernyataan yang cenderung meremehkan insiden ini memicu keprihatinan publik. Banyak pihak menilai bahwa narasi seperti itu berbahaya karena berpotensi menormalisasi kekerasan di lapangan hijau. Padahal, olahraga—terutama sepak bola—dibangun di atas nilai sportivitas, fair play, dan saling menghormati antar pemain.

Cedera yang dialami pemain muda Tim Taliabu tersebut bukanlah hal sepele. Robeknya bagian telinga hingga berpotensi merusak fungsi pendengaran adalah kondisi medis serius yang tidak bisa disamakan dengan benturan ringan dalam pertandingan. Jika hal seperti ini terus dianggap wajar, maka bukan tidak mungkin tindakan-tindakan berbahaya lainnya akan terus terulang tanpa ada evaluasi.
Wajah oknum/pelaku kekerasan pemukulan dalam lapangan. Di turnamen berani juara 2026.pagimama/sulawesi Tengah.

Lebih dari sekadar pertandingan, kehadiran tim muda dari Taliabu sejatinya membawa semangat persaudaraan. Mereka datang bukan hanya untuk bertanding, tetapi juga untuk meramaikan kegiatan, membangun silaturahmi antar daerah, dan menunjukkan bakat generasi muda di bidang olahraga.

Namun yang mereka dapatkan justru pengalaman pahit—sebuah insiden yang mencederai nilai-nilai sportivitas itu sendiri.

Sudah seharusnya semua pihak, baik panitia, wasit, maupun penyelenggara turnamen berani juara 2026 di kecamatan pagimana kabupaten banggai Sulawesi Tengah mengambil sikap tegas terhadap setiap bentuk pelanggaran yang membahayakan pemain. Ketegasan dalam menegakkan aturan bukan hanya untuk menjaga jalannya pertandingan, tetapi juga untuk melindungi keselamatan para atlet.

Olahraga bukan arena kekerasan. Tidak ada ruang untuk pembenaran atas tindakan yang membahayakan, apalagi sampai mengakibatkan cedera serius. Normalisasi terhadap kekerasan, sekecil apa pun, adalah langkah mundur bagi perkembangan dunia olahraga yang sehat dan berintegritas.

Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Jangan sampai semangat persaudaraan yang dibawa oleh para pemain muda justru ternodai oleh kelalaian dan pembiaran.

Karena pada akhirnya, kemenangan sejati dalam olahraga bukan hanya soal skor di papan, tetapi tentang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan sportivitas. Di Sulawesi Tengah. 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)