Fenomena Ular Piton di Taliabu dalam Perspektif Ekologi dan Sosial: Kritik Aktivis Mahasiswa terhadap Aktivitas Tambang

Admin RedMOL
0
Oleh : Muflihun La Guna aktivis Mahasiswa pulau Taliabu

RedMOL.id:Pulau Taliabu–Fenomena kemunculan ular piton di sejumlah permukiman warga di Pulau Taliabu belakangan ini kembali menimbulkan keresahan. Di tengah ketakutan masyarakat, berkembang pula narasi mistis yang mengaitkan kemunculan hewan buas tersebut dengan hal-hal di luar nalar. Namun, di balik cerita-cerita itu, aktivis mahasiswa justru mengingatkan publik untuk melihat persoalan ini secara lebih rasional dan ilmiah.

Menurut Muflihun aktivis mahasiswa di Pulau Taliabu, meningkatnya intensitas perjumpaan antara manusia dan ular piton bukanlah semata kejadian “aneh” atau “mistis”, melainkan tanda terganggunya keseimbangan ekosistem akibat aktivitas manusia—terutama pertambangan.

“Ketika hutan dibabat, ketika habitat alami mereka dihancurkan, maka satwa liar seperti ular piton tidak punya pilihan selain keluar dari sarangnya dan mendekati wilayah manusia,” ujar salah satu aktivis dalam pernyataannya.

Selama ini, hutan-hutan di Pulau Taliabu menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa, termasuk predator seperti ular piton. Namun, masuknya investasi pertambangan yang masif telah mengubah bentang alam secara drastis. Pembukaan lahan, pengerukan tanah, serta aktivitas alat berat menyebabkan rusaknya habitat alami dan memutus rantai makanan satwa liar.

Akibatnya, ular piton yang kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan terpaksa berpindah ke area yang lebih dekat dengan pemukiman warga. Hal ini yang kemudian memicu meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar.

Aktivis mahasiswa menilai, persoalan ini tidak bisa dilihat secara sempit sebagai ancaman terhadap keselamatan manusia semata. Lebih dari itu, ini adalah alarm keras bahwa kerusakan lingkungan sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.

“Yang terancam bukan hanya manusia. Satwa liar juga korban. Mereka kehilangan rumah, kehilangan sumber hidup. Ini bukan salah mereka, tapi akibat dari eksploitasi alam yang tidak terkendali,” tegasnya.

Selain itu, mereka juga mengkritik lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di daerah tersebut. Menurut mereka, banyak izin yang dikeluarkan tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, serta minimnya upaya rehabilitasi pasca tambang.

Fenomena ini juga menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk lebih serius dalam mengatur tata kelola sumber daya alam. Aktivis mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap izin-izin pertambangan yang berpotensi merusak lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan. Edukasi mengenai perilaku satwa liar serta langkah-langkah mitigasi perlu diperkuat agar tidak terjadi kepanikan yang berlebihan.

Kehadiran ular piton di tengah pemukiman sejatinya bukanlah cerita mistis, melainkan cerminan dari relasi manusia dengan alam yang semakin tidak seimbang. Jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, bukan tidak mungkin konflik antara manusia dan satwa liar akan semakin sering terjadi.

Pulau Taliabu kini berada di persimpangan: antara mengejar pertumbuhan ekonomi melalui investasi, atau menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup bersama. Tanpa keseimbangan, yang terjadi bukan hanya ancaman bagi manusia, tetapi juga kepunahan bagi satwa liar yang seharusnya dilindungi.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)