
RedMOL.id:Pulau Taliabu – Keresahan mulai meluas di kalangan petani kopra asal wilayah selatan Pulau Taliabu. Mereka mengaku heran sekaligus kecewa terhadap sistem penimbangan di sejumlah gudang penampung kopra di Luwuk, Kabupaten Banggai, yang dinilai tidak transparan dan merugikan.kamis (23/7/2026).
Sejumlah petani menuturkan bahwa hasil panen kopra yang mereka bawa dengan susah payah justru mengalami pemotongan berat yang tidak masuk akal saat ditimbang. Bahkan, mereka menyebut selisih berat yang terjadi terbilang besar, hingga menimbulkan kecurigaan terhadap keakuratan timbangan yang digunakan pihak gudang.
“Rasa lelah kami di kebun seakan tidak dihargai. Sudah jauh-jauh bawa kopra ke Luwuk, tapi saat ditimbang hasilnya turun jauh. Bahkan terasa lebih berat arang daripada kopra,” ungkap salah satu petani dengan nada kecewa.
Keluhan ini bukan datang dari satu atau dua orang saja. Beberapa petani lain juga mengaku mengalami hal serupa. Mereka menyebut praktik pemotongan berat yang terlalu besar membuat hasil penjualan tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang telah dikeluarkan selama proses produksi hingga distribusi.

Selain itu, petani juga mempertanyakan standar yang digunakan dalam proses penimbangan, termasuk potongan kadar air atau kualitas yang dinilai tidak dijelaskan secara terbuka. Kondisi ini memicu kebingungan dan ketidakpercayaan di kalangan petani terhadap pihak gudang.
“Kami ini orang kampung, tapi bukan berarti bisa diperlakukan tidak adil. Kalau memang ada potongan, harus jelas. Jangan sampai kami terus dirugikan,” tambah petani lainnya.
Situasi ini memunculkan desakan kepada pemerintah daerah, baik di Pulau Taliabu, untuk segera turun tangan melakukan pengawasan. Petani meminta adanya penertiban terhadap alat timbang di gudang-gudang penampung kopra, termasuk memastikan standar ukur yang digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Mereka juga berharap instansi terkait, seperti dinas perdagangan dan pihak metrologi, dapat melakukan pemeriksaan langsung guna memastikan tidak ada praktik yang merugikan petani kecil.
“Kami minta timbangan di gudang-gudang Luwuk ditertibkan. Petani di selatan ini sudah bingung dan lelah dengan kondisi seperti ini,” tegas mereka.
Jika tidak segera ditangani, persoalan ini dikhawatirkan akan berdampak lebih luas, tidak hanya pada kesejahteraan petani, tetapi juga terhadap stabilitas distribusi komoditas kopra di wilayah tersebut. Transparansi dan keadilan dalam rantai perdagangan menjadi hal yang mendesak untuk dipulihkan, agar kepercayaan petani tidak semakin terkikis.
