RedMOL.id:Pulau Taliabu–Di ujung selatan Pulau Taliabu, tepatnya di Desa Pencado dan Maluli, laut bukan sekadar lanskap biru yang memanjakan mata. Ia adalah denyut kehidupan. Setiap hari, ombak datang tanpa diundang—menghantam bibir pantai, menyapa perahu-perahu nelayan, dan mengisi kesunyian dengan suara yang seolah tak pernah berhenti. Bagi sebagian orang, itu hanya irama alam. Namun bagi mereka yang mampu melihat lebih jauh, di balik debur itu tersimpan potensi besar: energi masa depan.selasa (23/6/2026).
Ketika dunia mulai berpaling dari energi fosil menuju energi terbarukan, Desa Maluli dan Pencado justru seperti berdiri di atas “ladang energi” yang belum tergarap. Gelombang laut yang datang setiap hari, tanpa henti, sebenarnya adalah sumber energi kinetik yang dapat diubah menjadi listrik melalui teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut. Energi ini bersih, berkelanjutan, dan tidak akan habis selama laut terus bergerak.
Ironinya, masyarakat di wilayah ini masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Listrik yang terbatas, biaya energi yang mahal, serta akses infrastruktur yang belum merata menjadi realitas sehari-hari. Sementara itu, potensi energi dari laut—yang hadir gratis dan terus-menerus—masih dibiarkan berlalu begitu saja bersama ombak.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keunggulan geografis yang luar biasa. Dua pertiga wilayahnya adalah laut, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Desa Maluli dan Pencado adalah bagian kecil dari potret besar itu—wilayah yang kaya, namun belum sepenuhnya diberdayakan. Laut bagi masyarakat bukan hanya sumber ikan, tetapi juga jalur transportasi, ruang sosial, bahkan identitas budaya. Namun hingga kini, pemanfaatannya masih terbatas pada sektor perikanan, transportasi yang minim, serta pariwisata sederhana seperti pondok-pondok santai di tepi pantai.
Padahal, jika dikelola dengan visi yang lebih maju, laut dapat menjadi sumber energi strategis yang mengubah wajah desa. Bayangkan jika gelombang yang setiap hari menghantam pantai itu diubah menjadi listrik: rumah-rumah warga bisa terang sepanjang malam, usaha kecil bisa berkembang, fasilitas pendidikan dan kesehatan bisa meningkat, dan ketergantungan pada BBM perlahan berkurang.
Tentu, mewujudkan hal ini bukan perkara sederhana. Dibutuhkan perhatian serius dari pemerintah, investasi teknologi, serta kajian ilmiah yang matang. Infrastruktur harus dibangun, regulasi harus disiapkan, dan yang terpenting: masyarakat lokal harus dilibatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan. Mereka yang setiap hari hidup berdampingan dengan laut adalah pihak yang paling memahami karakter ombak, arah angin, dan ritme alam.
Lebih dari itu, pengembangan energi gelombang laut juga harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Laut bukan hanya sumber energi, tetapi juga ekosistem yang rapuh. Jika tidak dikelola dengan bijak, eksploitasi yang berlebihan justru bisa merusak keseimbangan alam dan mengancam mata pencaharian nelayan.
Di tengah krisis energi global dan ancaman perubahan iklim, Desa Pencado dan Maluli sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menjadi contoh bagaimana desa pesisir dapat bertransformasi menjadi pusat energi bersih. Ini bukan sekadar mimpi, melainkan kemungkinan nyata yang menunggu keberanian untuk diwujudkan.
Debur ombak di Taliabu Selatan tidak pernah berhenti. Ia terus datang, membawa pesan yang sama setiap hari: bahwa di balik suara yang sederhana, tersimpan kekuatan besar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah potensi itu ada, tetapi apakah kita siap melihatnya—dan lebih penting lagi, memanfaatkannya untuk masa depan masyarakat lokal.
Penulis : Muflihun La Guna
